Kanalmusikindonesia.com – Stevan Pasaribu berkolaborasi dengan musisi dan komposer Andi Rianto lewat lagu terbaru berjudul Siapa yang Tahan. Lagu tersebut resmi dirilis hari ini.
Stevan Pasaribu dan Andi Rianto ditemui di Equity Tower, Jakarta, Rabu (30/9/2026), untuk membahas karya terbaru mereka tersebut.
Bagi Stevan, kolaborasi dengan Andi Rianto merupakan salah satu cita-cita yang akhirnya terwujud. Ia mengaku Andi merupakan sosok yang selama ini menginspirasinya dalam bermusik.
“Ini adalah salah satu cita-citaku yang akhirnya terwujud, bisa kolaborasi sama Mas Andi Rianto. Mas Andi adalah seorang yang sangat-sangat menginspirasi aku dalam bermusik,” ujar Stevan.
Stevan mengatakan lagu tersebut dikerjakan bersama Andi dengan harapan dapat menyampaikan cerita dan perasaan kepada para pendengar.
“Kita buatnya bareng-bareng dengan hati dan nyampe ke hati kalian juga,” tuturnya.
Berawal dari Workshop di Bulan Ramadan
Andi Rianto kemudian menceritakan proses awal lahirnya lagu Siapa yang Tahan. Ide tersebut muncul ketika dirinya dan Stevan melakukan workshop pada siang hari di bulan Ramadan, sebelum waktu berbuka.
Saat itu, Andi membawa keyboard dan laptop. Keduanya bahkan belum menentukan apakah akan membuat lagu baru atau mengaransemen ulang lagu yang sudah ada.
“Waktu itu saya sama Stevan workshop di suatu siang di bulan puasa sebelum buka. Saya bawa keyboard sama laptop. Awalnya belum ada kepikiran mau bikin apa, apakah kita mau bikin remake atau lagu baru,” jelas Andi.
Andi kemudian mulai memainkan sebuah melodi. Dari situ, proses kreatif mereka berjalan secara spontan.
“Saya buat, kalau lagu ini gimana? Langsung aja. Langsung ada ide melodi saya bikin,” katanya.
Stevan kemudian langsung merespons melodi tersebut dengan vokalnya. Menurutnya, proses tersebut berjalan cukup cepat lantaran dirinya dan Andi sudah menemukan kecocokan.
“Karena mungkin kita sudah satu frekuensi, maksudnya kita sudah saling nyambung. Mas Andi buat melodi, aku langsung nyanyiin,” ungkap Stevan.
Andi bahkan memberikan dua pilihan melodi untuk bagian refrain. Namun, menurut Stevan, Andi sudah memahami karakter serta keinginannya.
“Dia tahu apa yang aku mau, tapi dia kasih dua pilihan buat jadi pembanding aja. Akhirnya jadilah itu nadanya waktu itu,” ujar Stevan.
Proses aransemen awal lagu tersebut juga berlangsung cukup singkat. Menurut mereka, pengerjaan aransemen hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam. Selebihnya, mereka menghabiskan waktu untuk berdiskusi dan membuat demo vokal.
Setelah itu, mereka kembali melakukan workshop untuk menyempurnakan bagian lirik.
Cerita tentang Mati Rasa
Dari proses tersebut, lahirlah lirik yang mengangkat cerita tentang seseorang yang terus disakiti oleh pasangannya hingga akhirnya mengalami mati rasa.
“Liriknya menceritakan tentang orang yang disakiti oleh pasangannya. Jadi siapa sih yang tahan karena pasangannya itu telah menyakitinya dengan sebegitu luar biasanya, dan akhirnya dia datang lagi,” kata Andi.
Stevan menilai cerita dalam lagu tersebut tidak hanya bisa dirasakan oleh satu orang. Menurutnya, pengalaman terus disakiti oleh orang yang dicintai dapat membuat seseorang terbiasa dengan rasa sakit.
“Ini mungkin banyak pengalaman orang-orang juga. Ketika kita sayang sama orang tapi kita selalu disakitin terus-menerus, yang membuat itu menjadi suatu kebiasaan. Itu bisa membuat kita jadi mati rasa,” tuturnya.
Stevan berharap lagu tersebut bisa menjadi pengingat bagi orang-orang yang sedang berada dalam situasi serupa untuk tetap menyayangi diri sendiri.
“Aku tahu cinta itu buta, tapi jangan buta-buta banget. Kita juga punya perasaan dan Tuhan sayang sama kita. Kok kita nggak sayang sama diri kita sendiri?” ucap Stevan.
Ada Cerita Godzilla di Balik Lirik
Proses penyusunan lirik Siapa yang Tahan juga diwarnai cerita unik. Stevan mengaku sempat membahas Godzilla ketika mereka mencari pilihan kata yang tepat untuk lirik.
Pembahasan tersebut kemudian menjadi bagian dari proses kreatif mereka karena Andi ternyata juga menyukai karakter Godzilla.
“Jadi lucunya gini, waktu kita buat liriknya tiba-tiba aku bahas-bahas Godzilla. Terus dia bilang dia juga ternyata sangat-sangat suka Godzilla,” cerita Stevan.
Dari situ, muncul ide menggunakan gambaran raksasa seperti Godzilla dalam proses penulisan lirik.
Setelah workshop selama sekitar enam hingga tujuh jam, lirik tersebut masih disempurnakan oleh Stevan dan Andi. Prosesnya kemudian berlanjut hingga rekaman vokal, mixing, dan mastering.
Andi Rianto Buat Lagu Sesuai Karakter Stevan
Andi Rianto mengatakan lagu tersebut memang dibuat dengan mempertimbangkan karakter vokal Stevan. Sebelum berkolaborasi, Andi terlebih dahulu mempelajari karakter suara penyanyi tersebut.
“Suara itu melankolis ya, tapi pembawaannya itu nyenengin lagu, terus karakternya kuat,” ujar Andi.
Menurut Andi, karakter vokal tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan bentuk lagu.
“Karena karakternya itulah saya buat lagunya yang custom made buat dia,” sambungnya.
Dalam proses rekaman, Stevan sempat merasa kurang percaya diri dengan beberapa bagian lagu. Ia sempat berdiskusi dengan Andi mengenai nada yang akan dinyanyikannya.
Namun, Andi terus memberikan dukungan kepada Stevan.
“Kamu tuh kalau suaranya kayak kamu, udah nggak usah khawatir, pasti bisa,” kata Andi.
Stevan mengakui kehadiran Andi selama proses rekaman membuatnya lebih percaya diri.
“Makanya kita butuh support system sebenarnya. Waktu aku proses vokal, ada Mas Andi juga. Itu nge-boosting aku sih buat nyanyi lebih enak lagi,” tutur Stevan.
Andi Rianto Tak Fokus pada Jumlah Stream
Sementara itu, Andi Rianto mengatakan dirinya tidak ingin menjadikan jumlah streaming, penghargaan, maupun nominasi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah karya.
Baginya, yang terpenting adalah menghasilkan karya dengan standar yang telah ditentukan dan dapat mempertanggungjawabkannya kepada diri sendiri setelah lagu tersebut dirilis.
“Saya sudah bilang sama Stevan, saya itu buat karya, yang penting itu sampai hati penuh karya. Yang penting kita itu kalau sudah punya standar, jangan diturunin,” kata Andi.
Menurutnya, respons publik terhadap sebuah lagu merupakan hal yang berbeda dengan proses menciptakan karya itu sendiri.
“Kalau lagu sudah keluar, sudah rilis, kita harus bangga sama karyanya. Jadi kalau mengenai jumlah stream, mengenai apa pun juga, awards, nominasi, terus dicintai atau enggaknya oleh penonton atau pendengar, itu semuanya berbeda,” jelasnya.
“Yang penting kalau karya itu keluar, kita harus bangga sama karya itu,” pungkas Andi.

