Kanalmusikindonesia.com — Joana Kania mengungkap alasan dirinya serius mengembangkan kelompok kreator Rudal Timur dari sekadar membuat konten hingga merambah industri musik dan film. Menurut Joana, para personel Rudal Timur memiliki potensi besar yang terlihat dari respons penonton ketika mereka tampil dalam berbagai acara off-air maupun melalui media sosial.
Joana mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam mempertahankan kelompok tersebut adalah menyatukan para personel yang memiliki kesibukan masing-masing. Sebagian di antaranya memiliki pekerjaan sebagai pencipta karya, bermain sinetron, maupun menjalankan aktivitas lainnya.
“Kita mengumpulkan dan memaintain mereka sampai sekarang. Kesulitannya sebenarnya mereka punya pekerjaan masing-masing. Ada yang pencipta, ada yang memang main sinetron. Itu sulit untuk menyatukannya,” ujar Joana.
Untuk menjaga kekompakan kelompok, Joana meminta seluruh personel memiliki komitmen terhadap aktivitas Rudal Timur. Ia menekankan pentingnya meluangkan waktu dan menjaga kedisiplinan dalam memproduksi konten.
“Saya bilang ke mereka, kalau mau bintang, harus bisa mengorbankan waktu satu kali untuk bisa konten dan disiplin kontennya,” katanya.
Melihat Potensi Rudal Timur dari Panggung hingga Media Sosial
Joana mengaku semakin yakin mengembangkan Rudal Timur setelah melihat langsung kemampuan mereka ketika tampil di berbagai acara. Baginya, kemampuan menghidupkan suasana menjadi salah satu indikator bahwa kelompok tersebut memiliki daya tarik yang kuat di hadapan publik.
“Saya yakin potensi mereka itu luar biasa. Karena bukan cuma di konten, mereka sering juga diundang di acara-acara off-air. Kalau orang itu sudah naik, itu kelihatan dari koreo penontonnya,” tuturnya.
Keyakinan tersebut juga diperkuat dengan performa Rudal Timur di media sosial. Meski jumlah pengikut mereka belum mencapai jutaan, Joana menyebut tingkat jangkauan dan engagement konten yang dihasilkan cukup tinggi.
Saat ini, Rudal Timur memiliki sekitar 62 ribu pengikut di Instagram dan sekitar 120 ribu pengikut di TikTok. Namun, menurut Joana, angka tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan potensi mereka.
“Followers kita memang tidak banyak, 62 ribu di Instagram. Di TikTok sekitar 120 ribu. Tetapi insight-nya luar biasa. Saya baru kali ini pegang talent, yang menonton itu bisa sampai 13 juta, 14 juta,” ungkapnya.
Bagi Joana, capaian tersebut menjadi salah satu alasan untuk membawa Rudal Timur ke level yang lebih besar.
Lagu “Rudal Timur” Dirilis, Respons Publik Positif
Selain konten, Rudal Timur kini mulai memasuki ranah musik melalui lagu berjudul “Rudal Timur”. Lagu tersebut telah dirilis dan tersedia di media sosial.
Joana mengaku terkejut melihat respons masyarakat setelah lagu tersebut dirilis. Bahkan, tidak lama setelah lagu diunggah ke TikTok, sudah ada pengguna yang membuat video menggunakan lagu tersebut secara spontan.
“Saya kaget. Di TikTok saja, kemarin baru posting sore, sudah ada yang bikin video-video. Sudah banyak yang bikin videonya,” kata Joana.
Menurutnya, video-video tersebut dibuat secara organik tanpa adanya permintaan dari pihak Rudal Timur.
“Ini tidak ada yang menyuruh. Ini dengan sendirinya,” ujarnya.
Joana berharap lagu tersebut dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Ia menyebut lirik lagu “Rudal Timur” dibuat cukup netral sehingga dapat dinikmati berbagai kelompok usia.
“Seluruh kalangan masyarakat. Karena liriknya netral. Bisa dinikmati anak-anak, jadi anak-anak juga mendengarnya aman,” jelasnya.
Untuk video musik, Joana menyebut versi video lirik sudah tersedia, sementara video klip utama masih dalam tahap persiapan. Rencananya, produksi video klip akan dilakukan pada bulan berikutnya.
“Untuk musik videonya, rencana kita bulan depan,” katanya.
Dari Konten Menuju Film
Langkah Rudal Timur tidak berhenti pada konten dan musik. Joana juga tengah mempersiapkan sebuah film yang akan mengangkat kisah kehidupan masyarakat Timur Indonesia.
Joana mengakui bahwa keputusan membawa Rudal Timur ke film bukan tanpa kekhawatiran. Namun, pengalaman membawa mereka tampil di berbagai acara menjadi salah satu pembuktian bahwa mereka mampu menghibur penonton.
“Pertama, memproduksi sesuatu itu ada kekhawatiran pasti. Tapi saya kembali lagi meyakinkan bahwa ini bisa, ini bisa jadi sesuatu. Karena begitu saya lempar ke off-air, itu terbukti,” ungkapnya.
Ia menilai personel Rudal Timur mampu membuat suasana acara menjadi lebih segar dan membuat penonton menikmati jalannya acara.
“Saya beberapa kali bawa mereka off-air. Di situ saya melihat bahwa mereka memang orang-orang yang bisa membawa satu acara menjadi lebih fresh, membuat orang menikmati suasananya. Kalau mereka ada di panggung, itu yang membuat saya yakin,” ujarnya.
Proyek film tersebut juga menjadi pengalaman baru bagi Joana. Sebelumnya ia pernah terlibat dalam produksi, tetapi bukan film komedi seperti proyek yang sedang dipersiapkannya bersama Rudal Timur.
“Ini mungkin pertama kali nge-direct, memproduksi sebuah film. Sebelumnya pernah, tapi band. Sekarang untuk pertama kali komedi dan film,” katanya.
Angkat Kehidupan Anak Timur
Film yang tengah dipersiapkan tersebut akan mengangkat perjalanan kehidupan anak-anak dari wilayah Timur Indonesia. Ceritanya akan dikemas dalam genre drama komedi sekaligus membawa nilai budaya.
Joana ingin film tersebut menjadi ruang untuk mematahkan stigma negatif yang selama ini melekat terhadap masyarakat Timur.
“Ini tentang perjalanan kehidupan anak-anak Timur yang terpinggirkan. Tapi akhirnya mereka bisa membuktikan bahwa orang Timur itu tidak seperti anggapan bahwa orang Timur tidak bisa apa-apa selain dekat dengan kekerasan,” jelasnya.
Film tersebut nantinya juga akan memasukkan unsur budaya dari daerah yang menjadi lokasi pengambilan gambar. Joana menyebut pihaknya berencana menggandeng sejumlah pihak dari pemerintah daerah setempat.
Rencana awal pengambilan gambar mencakup sejumlah wilayah seperti Sumba, Ambon, dan Papua. Namun, Joana menyadari bahwa melakukan produksi di seluruh wilayah tersebut bukan perkara mudah.
“Kita selalu punya rencana syuting di Sumba, Ambon, dan Papua. Jadi film ini memang kita serius, agar kita tidak asal,” katanya.
Ia mengaku sudah mendapatkan respons positif dari sejumlah pemerintah daerah yang dihubungi terkait rencana produksi tersebut.
“Dari Maluku sudah menyampaikan bahwa kalau datang syuting kita support. Tapi sekali lagi, kita harus bisa memilih. Tidak bisa semua, Sumba, Ambon, Papua. Bukan hal yang gampang,” ujarnya.
Untuk sementara, Sumba menjadi salah satu lokasi yang paling dipertimbangkan Joana. Pemilihan lokasi tersebut nantinya tetap akan dibahas bersama sutradara untuk menentukan wilayah yang paling sesuai dengan kebutuhan cerita.
Musik dan Film Akan Berjalan Beriringan
Joana menegaskan Rudal Timur ke depannya tidak hanya akan fokus pada satu bidang. Konten, musik, dan film akan dikembangkan secara berimbang.
“Kita balance,” tegasnya.
Ia juga menyebut adanya ketertarikan dari pihak label terhadap aktivitas pertunjukan Rudal Timur. Namun, untuk memasukkan lagu “Rudal Timur” maupun lagu-lagu berikutnya ke dalam film, Joana masih harus mendiskusikannya dengan sutradara dan tim produksi.
“Untuk lagu Rudal Timur sendiri saya harus godok dulu sama director. Saya harus ngobrol dulu sama sutradaranya, karena ada part-part scene yang sekiranya masuk di scene yang mana,” jelasnya.
Dengan kombinasi konten digital, musik, pertunjukan langsung, dan film, Joana berharap Rudal Timur dapat berkembang menjadi kelompok kreatif yang memiliki jangkauan lebih luas.
Bagi Joana, potensi tersebut sudah terlihat dari respons penonton di dunia nyata maupun digital. Karena itu, ia memilih untuk terus mengembangkan Rudal Timur dengan tetap menekankan kreativitas sebagai salah satu kunci utama.
Menurutnya, personel yang terlibat harus memiliki kemampuan untuk menciptakan ide secara mandiri. Dengan begitu, karakter komedi yang muncul akan terasa lebih natural dan sesuai dengan karakter mereka.
“Harus lucu, harus kreatif. Karena kalau kreatifnya diciptakan sama mereka langsung, mereka tahu apa yang mereka mau bikin. Itu akan lebih masuk,” pungkas Joana.

