Kanalmusikindonesia.com – Rangga Moela kembali menunjukkan kecintaannya terhadap dunia fashion saat menghadiri Jakarta Fashion Week (JFW) 2027. Ditemui di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan, Kamis (29/10/2026), Rangga mengaku sudah terbiasa dengan aktivitas di dunia fashion sehingga tidak lagi merasa kesulitan ketika harus tampil di panggung peragaan busana.
Menurut Rangga, keterlibatannya dalam berbagai agenda fashion setiap tahun membuat aktivitas tersebut terasa seperti rutinitas yang sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
“Enggak sih, karena memang mungkin juga udah menjadi agenda tahunan. Jadi ini kayak udah ritual, biasa tiap tahun. Bahkan sebenarnya bukan hanya di Jakarta Fashion Week, tiap fashion week yang lain atau agenda fashion yang lain juga memang udah biasa,” ujar Rangga.
Ia mengaku dunia fashion bukan sesuatu yang asing baginya. Selain menjadi bagian dari pekerjaan, fashion juga merupakan salah satu bidang yang memang disukainya.
Berbicara mengenai gaya berpakaian, Rangga mengungkapkan bahwa dirinya tidak selalu harus membeli pakaian baru untuk menciptakan penampilan berbeda. Ia justru lebih senang mengeksplorasi koleksi pakaian yang sudah dimiliki dengan memadupadankan berbagai item.
Menurutnya, kreativitas dalam berpakaian bisa dimulai dengan melihat kembali isi lemari dan memanfaatkan pakaian lama untuk menciptakan tampilan baru.
“Kadang-kadang lihat di lemari, apa yang ada, misalkan apa yang udah pernah dipakai juga kadang-kadang ada pengulangan. Pakainya di-mix and match,” tuturnya.
Dalam penampilannya kali ini, Rangga juga menerapkan teknik layering atau mengenakan beberapa lapisan pakaian. Ia memadukan kemeja dengan outer untuk menghasilkan tampilan yang lebih menarik.
Menariknya, salah satu item yang dikenakannya ternyata merupakan kemeja lama yang diolah kembali dengan kreativitas styling.
“Ini kemeja dalamnya sebenarnya memang kemeja lama. Terus dia sebenarnya ada tie panjangnya, terus diakalin tadi, ikat aja supaya bikin ilusi lehernya bisa jadi nyilang. Jadi di belakangnya itu diikat,” jelasnya.
Rangga menilai teknik mix and match menjadi salah satu cara untuk tetap tampil modis tanpa harus terus-menerus membeli pakaian baru. Ia juga tidak ingin kebiasaan mengikuti tren fashion justru membuat seseorang menjadi terlalu konsumtif.
Soal berbelanja pakaian, Rangga mengaku tidak membatasi pilihannya berdasarkan harga maupun label merek. Ia bisa saja membeli koleksi terbaru, tetapi tidak menutup kemungkinan memilih pakaian preloved atau barang hasil thrifting selama menyukai model dan karakter barang tersebut.
“Aku tuh bukan tipikal yang harus punya barang mahal, harus ada segala sesuatu lihat dari harganya, enggak juga. Aku melihat sesuatu itu karena aku suka. Jadi kalau aku suka, aku beli, enggak peduli itu mau preloved atau new collection. Apa pun yang aku suka akan aku beli,” ungkapnya.
Ia juga mengaku tidak memiliki anggaran khusus untuk berbelanja fashion. Menurutnya, keputusan membeli pakaian tetap disesuaikan dengan kondisi keuangan.
“Kalau budget sih enggak dibudget-budget. Kalau ada dananya kita beli, kalau enggak ada dananya kita nabung. Itu aja,” katanya.
Rangga bahkan mengaku cukup menikmati pengalaman berburu pakaian bekas di sejumlah tempat. Ia pernah mendatangi beberapa pasar, termasuk Pasar Senen dan Pasar Baru. Baginya, kegiatan thrifting memberikan kesempatan untuk menemukan pakaian unik yang belum tentu tersedia dalam koleksi terbaru.
Salah satu pengalaman menariknya adalah ketika berhasil menemukan jaket vintage dari rumah mode Yves Saint Laurent (YSL).
“Aku pernah dapat kayak jaket YSL yang memang vintage. Terus memang legit. Jadi memang kita harus punya knowledge juga kalau misalkan thrifting itu,” bebernya.
Meski menyukai kegiatan thrifting, Rangga mengingatkan agar masyarakat tidak asal membeli hanya karena tergiur harga murah. Menurutnya, pemilihan barang tetap harus mempertimbangkan kualitas, kebutuhan, dan kemungkinan pakaian tersebut akan benar-benar digunakan.
Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap kebersihan pakaian bekas sebelum dikenakan. Rangga mengaku memiliki cara tersendiri untuk memastikan pakaian yang dibelinya benar-benar bersih.
“Tipsnya adalah dicuci sampai bersih, direndam semalaman. Aku biasanya kalau direndam semalaman pakai yang anti-kuman, anti-bakteri. Terus aku dry clean lagi, aku masukin laundry sampai benar-benar totally bersih. Karena kita never know itu dari mana,” jelasnya.
Lebih jauh, Rangga menilai kebiasaan menggunakan kembali pakaian juga menjadi salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Ia mengingatkan bahwa industri fashion turut menyumbang persoalan limbah sehingga para pencinta fashion sebaiknya mulai memperhatikan pola konsumsi masing-masing.
“Jangan juga kalah mata. Kadang-kadang karena harga murah kita beli, tahu-tahu enggak kepakai akhirnya jadi sampah lagi. Justru dengan kita itu sebenarnya ikut menjaga dan melestarikan bumi,” katanya.
Dalam mengikuti perkembangan tren fashion, Rangga mengaku bukan sosok yang selalu terpaku pada tren terbaru. Ia lebih mengutamakan kenyamanan dan karakter personal, kemudian menggabungkannya dengan beberapa elemen yang sedang populer.
Menurutnya, tren fashion cenderung mengalami pengulangan. Teknik layering, misalnya, masih menjadi salah satu gaya yang dapat terus dieksplorasi dalam berbagai penampilan.
“Aku tuh bukan tipikal yang suka ngikutin tren, tapi apa yang nyaman dengan diri aku, terus mungkin di-mix and match dengan apa yang sekarang lagi hits. Jadi enggak terlalu yang kayak sekarang trennya apa, aku ikutin. Enggak gitu,” ungkapnya.
Untuk urusan potongan pakaian, Rangga juga menyesuaikan dengan kebutuhan penampilan. Ia terkadang memilih busana yang pas di badan atau body fit, tetapi tidak jarang menggunakan pakaian oversize untuk menciptakan dimensi dalam teknik layering.
Di sisi lain, Rangga mengungkapkan bahwa perjalanan kariernya di dunia fashion sudah melalui berbagai pencapaian. Ia pernah memiliki brand fashion sendiri, mengikuti Jakarta Fashion Week, hingga berkesempatan bekerja sama dengan sejumlah desainer serta brand lokal dan internasional.
“Aku udah pernah punya brand sendiri, udah pernah jalan buat Jakarta Fashion Week, brand-ku juga pernah masuk majalah fashion ternama, aku pun pernah masuk majalah fashion ternama, jalan buat desainer-desainer dan bekerja sama dengan brand-brand internasional dan juga lokal,” tuturnya.
Meski telah merasakan berbagai pengalaman tersebut, Rangga masih memiliki impian untuk memperluas kiprahnya di industri fashion internasional. Ia berharap suatu saat bisa tampil di panggung fashion dunia dengan membawa nama Indonesia melalui kolaborasi bersama brand internasional.
“Kalau gue sendiri mungkin saat ini pengin jalan di fashion luar negeri. Karena biasanya sekarang jadi muse untuk desainer Indonesia dan juga local brand. Mungkin nanti suatu saat bisa dibawa sama brand internasional, represent Indonesia untuk jalan di panggung internasional. Mudah-mudahan,” harapnya.
Tak hanya fashion, Rangga juga menyinggung aktivitasnya di dunia musik. Ia mengaku masih merindukan suasana tampil di atas panggung bersama rekan-rekannya, meskipun intensitas bernyanyi saat ini tidak sesering dahulu.
Ia mengatakan masih sempat tampil bernyanyi dalam sejumlah kesempatan, salah satunya ketika menghadiri Fashion Nation di Senayan City. Setelah berjalan di runway, Rangga juga melanjutkan acara dengan penampilan musik.
“Kangen, kangen banget manggung. Tapi terakhir juga aku masih nyanyi, kemarin di Fashion Nation juga di Senayan City. Setelah runway aku juga nyanyi, perform. Jadi sebenarnya tetap ada, cuma mungkin tidak sesering dulu, intensitasnya mungkin berkurang,” pungkasnya.

