Kanalmusikindonesia.com – Musik dangdut terus mengalami perkembangan seiring perubahan zaman. Tidak hanya digemari generasi terdahulu, musik yang menjadi salah satu identitas musik Indonesia itu kini juga semakin mendapat tempat di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z.
Hal tersebut turut mendapat perhatian dari dua penyanyi dangdut senior, Cici Paramida dan Ikke Nurjanah. Keduanya mengaku bangga melihat semakin banyak generasi muda yang tidak hanya menikmati, tetapi juga ikut berkreasi dan mengembangkan musik dangdut.
Cici Paramida dan Ikke Nurjanah ditemui di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, Rabu (30/9/2026).
Cici Paramida menyebut perkembangan musik dangdut saat ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam cara generasi muda menikmati musik.
Menurutnya, musik dangdut kini tidak lagi memiliki batasan generasi maupun kelompok tertentu. Gen Z justru ikut terjun dan memberikan warna baru bagi perkembangan dangdut di Indonesia.
“Kalau bicara saat ini, saya merasa yang paling ditekankan adalah tidak ada lagi gap, tidak ada lagi jarak. Bagaimana Gen Z ini mengapresiasi musik dangdut, nyemplung total, dan ada,” ujar Cici.
Menurut Cici, keterlibatan Gen Z dalam musik dangdut menjadi sesuatu yang membanggakan bagi para pelaku musik dangdut senior.
Ia menilai musik seharusnya tidak dikotak-kotakkan berdasarkan genre maupun kelompok usia. Kehadiran generasi muda justru dapat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan musik dangdut.
“Musik itu bukan harus dikotak-kotakkan, musik itu bukan harus dipilih-pilih. Tapi Gen Z inilah yang membawa kita. Jadi terima kasih Gen Z yang mengapresiasi, berkreasi, berinovasi, dan ada di musik dangdut,” tuturnya.
Senada dengan Cici, Ikke Nurjanah juga melihat perkembangan positif dari musik dangdut di kalangan generasi muda. Menurut dia, kreativitas para musisi saat ini menjadi salah satu faktor yang membuat dangdut tetap mampu mengikuti perkembangan zaman.
Ikke menyoroti banyaknya lagu lama yang kembali diperkenalkan dengan aransemen dan nuansa musik yang lebih kekinian. Menurutnya, kreativitas tersebut menjadi salah satu cara untuk membuat musik dangdut dapat diterima oleh lebih banyak kalangan, termasuk Gen Z.
“Karena sekarang ini banyak mungkin lagu-lagu lama yang dirilis kembali, tapi dengan nuansa musik yang salah satunya hip-hop. Nah, di situ para musisi juga mempunyai kreasi bagaimana bisa mengembangkan dangdut ini,” kata Ikke.
Ia menilai perpaduan unsur dangdut dengan elemen musik lain dapat menjadi bentuk kreativitas untuk memperluas pendengar.
“Memang bukan yang original, tapi dia mengandung unsur musik lain yang bisa masuk ke semua kalangan, utamanya Gen Z. Itu luar biasa sekali buat dunia dangdut Indonesia,” ujarnya.
Ikke juga mengapresiasi generasi muda yang tetap memilih untuk berkarya di tengah derasnya pengaruh musik dari berbagai belahan dunia.
Menurutnya, keberadaan Gen Z sebagai penikmat sekaligus pelaku musik dangdut menjadi modal penting agar genre tersebut tetap bertahan dan berkembang.
“Di tengah Gen Z yang mungkin banyak terpapar musik Barat, tapi dangdut masih bisa survive dan membesar hari ini. Kita harus mempertahankan, menjaga, dan bisa lebih survive lagi,” tutur Ikke.
Cici dan Ikke berharap regenerasi dalam industri dangdut terus berjalan. Mereka juga berharap semakin banyak karya baru dan apresiasi terhadap para pelaku musik dangdut sehingga ekosistem musik tersebut semakin semarak pada tahun-tahun mendatang.
Keduanya melihat penghargaan dan apresiasi terhadap musisi dangdut bukan sekadar bentuk pengakuan, tetapi juga dapat menjadi penyemangat bagi para penyanyi dan pencipta lagu untuk terus menghasilkan karya.
Dengan keterlibatan generasi muda dan kreativitas para musisi dalam mengemas dangdut sesuai perkembangan zaman, musik dangdut diharapkan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan musik Indonesia.

