Kanalmusikindonesia.com – Duo hip hop asal Malaysia, Kmy Kmo & Luca Sickta, membagikan cerita di balik proses kreatif mereka dalam menciptakan lagu. Menurut keduanya, karya yang mereka hasilkan tak hanya berasal dari pengalaman pribadi, tetapi juga dari kisah nyata para penggemar yang kerap berbagi cerita kehidupan.
Kmy Kmo mengatakan hanya sebagian kecil lirik lagu mereka yang terinspirasi dari pengalaman pribadi.
“Kalau pengalaman pribadi mungkin sekitar 20 persen. Selebihnya datang dari cerita para fans yang mengadu atau berinteraksi dengan kami mengenai kehidupan dan masalah sosial mereka. Dari situ kami ambil intisarinya untuk dimasukkan ke dalam lagu,” ujar Kmy Kmo.
Duo tersebut memang dikenal konsisten menghadirkan lagu bertema kehidupan. Mereka mengaku selalu melakukan riset terhadap isu-isu sosial yang sedang terjadi agar karya yang dirilis bisa lebih dekat dengan masyarakat.
“Kebanyakan lagu kami memang mengandung unsur nasihat dan pelajaran hidup. Kami juga melakukan riset tentang isu-isu semasa agar lagu yang dirilis bisa relevan dengan pendengar,” lanjutnya.
Kmy Kmo dan Luca Sickta mengungkapkan perjuangan mereka di industri musik dimulai sejak lama. Keduanya telah saling mengenal sejak 2003 dan memiliki visi yang sama untuk mengembangkan musik hip hop dengan sentuhan budaya Nusantara di Malaysia.
“Yang kami perjuangkan adalah hip hop dan kombinasi musik Nusantara di Malaysia. Itu juga yang membawa kami datang ke Indonesia untuk membuka peluang kolaborasi yang lebih besar,” kata Luca Sickta.
Dalam perjalanan kariernya, Kmy Kmo sempat bekerja bersama Malique Ibrahim, personel grup legendaris Too Phat, pada 2015. Sementara Luca Sickta dipercaya sebagai sound engineer. Dari pengalaman tersebut, mereka banyak mendapat ilmu dan arahan mengenai perjalanan di industri musik.
“Malique Ibrahim dan beberapa senior banyak memberikan nasihat tentang perjalanan di industri musik. Itu yang membuat kami semakin bersemangat membawa musik hip hop ke level yang lebih tinggi,” ungkap mereka.
Mereka juga menyoroti perubahan besar di era digital. Jika dahulu membuat musik membutuhkan biaya besar karena harga peralatan rekaman sangat mahal, kini proses produksi jauh lebih mudah diakses.
“Dulu ketika mulai bikin musik, semua peralatan mahal. Mikrofon mahal, alat rekaman mahal. Sekarang hampir semua orang bisa membuat lagu. Yang membedakan sekarang adalah kualitas dan pengalaman,” jelas Luca Sickta.
Salah satu pencapaian terbesar mereka adalah saat berkolaborasi dengan diva Malaysia, Datuk Sri Siti Nurhaliza, melalui lagu 7 Nasihat yang dirilis sekitar tujuh tahun lalu. Lagu tersebut sukses menembus lima besar Anugerah Juara Lagu, salah satu penghargaan musik paling bergengsi di Malaysia.
“Itu pencapaian yang sangat besar bagi kami. Lagu pertama kami di Anugerah Juara Lagu langsung berhasil masuk Top 5. Bisa berkolaborasi dengan Datuk Sri Siti Nurhaliza menjadi kebanggaan tersendiri,” ujar Kmy Kmo.
Tak berhenti sampai di situ, keduanya mengaku telah menyiapkan sejumlah rencana kolaborasi baru, termasuk dengan musisi Indonesia. Meski belum ingin membocorkan nama-namanya, mereka memastikan daftar calon kolaborator sudah disiapkan.
“Kalau penyanyi dan grup hip hop Indonesia memang sudah ada dalam daftar. Tapi untuk sekarang belum bisa kami umumkan,” kata mereka.
Bagi Kmy Kmo & Luca Sickta, kolaborasi antara Malaysia dan Indonesia bukan sekadar proyek musik, melainkan simbol kedekatan dua negara serumpun.
“Kita ini jiran, serumpun. Kolaborasi itu seperti mengajak tetangga makan bersama. Harapannya hubungan musik Malaysia dan Indonesia semakin erat dan bisa terus berkembang,” tutup mereka.

