Kanalmusikindonesia.com – Grup band akhirnya merilis album terbaru bertajuk WOW MA setelah penantian panjang selama enam tahun. Jarak waktu tersebut menjadi yang terlama sepanjang perjalanan karier mereka sejak album terakhir dirilis pada 2020.
Vokalis The Changcuters, Tria, mengaku proses lahirnya album WOW MA tidak berjalan mulus. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu faktor utama yang membuat pengerjaan album sempat terhenti.
“Ini kayaknya rentang yang paling lama dari setiap album yang pernah kita keluarkan. Setelah album terakhir, ada pandemi, habis pandemi kita membangun lagi. Sempat berhenti, terus nyicil lagi, balik ke studio lagi,” ujar Tria saat peluncuran album WOW MA.
Tak hanya pandemi, kondisi kesehatan yang sempat dialaminya juga membuat proses produksi kembali tertunda.
“Pas lagi jalan, ternyata ada kejadian sama saya, sakit dan segala macam. Jadi kepotong lagi prosesnya. Sampai akhirnya album ini baru bisa dirilis sekarang,” tuturnya.
Meski membutuhkan waktu lama, Tria menyebut proses tersebut sebagai sebuah perjuangan yang justru membuat hasil akhirnya terasa lebih bermakna.
Selain berbagai kendala yang dihadapi, pengerjaan WOW MA juga menjadi album yang sepenuhnya dilakukan secara mandiri oleh The Changcuters. Sejak pandemi, mereka memilih berjalan dengan label sendiri sehingga seluruh proses produksi hingga promosi ditangani langsung oleh para personel.
“Kalau sekarang semuanya kita kerjakan sendiri. Mulai dari rekaman, mastering, promosi sampai konsep peluncuran album. Jadi memang butuh koordinasi dan komunikasi yang lebih intens,” jelasnya.
Menurut Tria, bekerja secara independen memberi kebebasan lebih besar karena tidak ada tekanan tenggat waktu dari pihak luar.
“Dulu mungkin ada yang nanya, ‘kapan nih albumnya keluar?’ Kalau sekarang nggak ada. Semua keputusan ada di kita sendiri. Jadi lebih bebas menentukan kapan album itu siap dirilis,” katanya.
Meski demikian, kebebasan tersebut bukan berarti tanpa tantangan. Justru karena semua dikerjakan sendiri, mereka harus memastikan setiap detail berjalan sesuai rencana.
“Sebenarnya bukan kesulitan, lebih ke tantangan. Karena semua dilakukan sendiri, jadi prosesnya harus lebih matang. Alhamdulillah hasilnya sesuai yang kita harapkan,” ujarnya.
Setelah 22 tahun berkarier, semangat The Changcuters untuk terus berkarya juga disebut tidak pernah berubah. Bagi mereka, membuat album masih menjadi bagian paling menyenangkan dalam perjalanan bermusik.
“Berkarya itu sudah jadi hal yang utama buat kami. Selama kami masih berlima dan masih komit untuk ngeband, ya kami akan terus bikin karya,” ungkap Tria.
Ia menambahkan, menggarap album memberikan kepuasan yang berbeda dibandingkan aktivitas lain sebagai musisi.
“Ada kesenangan tersendiri saat bikin album. Beda dengan manggung atau kerjaan lain dalam sebuah band. Memang hobi kami bikin band dan bikin karya,” katanya.
Saat ditanya soal rahasia menjaga kekompakan selama lebih dari dua dekade, personel The Changcuters menjawab sederhana. Menurut mereka, komunikasi dan saling menghargai menjadi kunci utama.
“Ya kumpul, komunikasi, saling menghargai. Yang paling penting terus berkarya. Lewat karya itu kita bisa menuangkan hal-hal yang kita senangi dan akhirnya bisa dinikmati banyak orang,” tutur Tria.
Dalam kesempatan yang sama, mereka juga mengenang perjalanan awal saat membentuk band. Honor pertama yang diterima The Changcuters hanyalah sebuah amplop berisi Rp50 ribu setelah tampil di acara kampus.
“Waktu itu sebenarnya nggak ada deal bayaran. Kami cuma diundang tampil, lalu setelah selesai dikasih amplop. Itu rezeki pertama kami dari ngeband dan jadi motivasi untuk terus lanjut,” kenangnya sambil tertawa.
Kini, setelah seluruh persiapan dianggap matang, The Changcuters mantap memperkenalkan WOW MA kepada publik. Mereka mengaku puas dengan hasil yang telah dikerjakan dan siap menerima respons dari para pendengar.
“Kalau terus melihat kekurangan, nggak akan pernah selesai. Jadi kita batasi sampai titik yang menurut kita sudah puas. Setelah ini baru nanti kita evaluasi untuk karya berikutnya,” pungkasnya.

