Kanalmusikindonesia.com – Dua musisi kawakan ini cukup vokal soal hak cipta. Piyu dan Badai sampai nongkrong bareng. Tapi, obrolan tongkrongan di luar panggung advokasi mereka malah jauh dari topik serius.
“Kalau nongkrong sih ngomongin sesuatu yang ringan-ringan saja ya,” kata Piyu saat ditemui di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.
Badai menimpali dengan tawa lepas. “Gaklah (bahas royalti), kita gak usah bikin pusing juga. Ringan-ringan dan random saja,” ujarnya.
Piyu mengakui sebagai pecinta kopi sejati, pernah terjun sebagai barista. Sementara, Badai punya selera lain.
“Saya pecinta kopi, barista juga, dan saya punya kopi juga di Jogja, cuma lagi break karena fokus memperjuangkan hak cipta,” ungkap Piyu.
“Kalau saya gak begitu suka kopi hitam, apalagi yang acidity-nya tinggi,” timpal Badai.
Keduanya yang lagi nongkrong, memuji konsep, tata ruang, hingga suasana hangat yang tercipta.
“Terus terang saja sih kita surprise ya. Baru pertama kali ramai langsung, layout-nya oke banget. Masuk langsung ke atas, itu jadi keren,” ujar Piyu.
“Mudah-mudahan Kopi Buntu bukan sekadar kedai kopi, tapi bisa jadi kedai musik, wadah karya cipta. Bisa saja dari sini lahir banyak musisi baru,” tandas Badai.

