Lambeturah.co.id – Industri musik sudah mulai berevolusi sejak kehadiran Artificial Intelligence (AI). Apakah hal ini menjadi sebuah peluang atau malah menimbulkan kekhawatiran?
Sejak munculnya beberapa tahun ini, AI sudah mengubah proses kreasi, produksi, hingga distribusi melalui alat untuk komposisi musik, mixing dan mastering yang lebih efisien.
Soal revolusi industri musik dengan AI, LMK PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia) mengadakan workshop tentang Pemanfaatan Potensi Musik Digital serta Peluang dan Ancaman Artificial Intelligence (AI) dalam Industri Musik.
Ketua LMK PAPPRI Johnny Maukar tidak menampik munculnya AI memang sangat luar biasa, namun juga bisa membahayakan.
“AI adalah revolusi dalam industri musik yang akan memberikan dampak peluang sekaligus ancaman bagi para pelaku musik. Untuk mengantisipasinya maka para anggota LMK PAPPRI harus dapat memahami AI,” katanya dalam keterangan resmi, pada Sabtu (20/9/2025).
“AI memungkinkan musisi untuk bereksperimen dengan suara baru dan menciptakan karya-karya yang lebih inovatif, bahkan untuk menghidupkan kembali suara artis yang telah meninggal. AI juga dapat menganalisis data besar untuk mengidentifikasi tren pasar, memprediksi kesuksesan lagu, dan membantu dalam promosi musik,” tambahnya.
Akan tetapi, di samping memberikan peluang, AI juga dikatakan Johnny Maukar dapat memberikan tantangan dan kekhawatiran. Hal itu terkait hak cipta dan kehilangan pekerjaan.
“AI menimbulkan perdebatan tentang sejauh mana teknologi dapat menggantikan kreativitas manusia dan apakah musik yang dihasilkan AI dapat dianggap orisinal. Algoritma AI yang memprioritaskan genre dan artis arus utama dapat secara tidak sengaja meminggirkan genre niche dan musisi independen, mengurangi keberagaman dalam industri,” pungkasnya.

